Header Ads Widget

Responsive Advertisement
Seperti kebanyakan kisah pada umumnya. Kisah cinta juga sering menjadi perbincangan, terutama urusan putus ketika pasangan udah ngerasa gak cocok atau emang ada hal yang gak bisa diselesaikan. Tapi apakah masih ada yang bilang putus baik-baik?
Photo: Unsplash/Owen Beard
VISIBLEMI - Sebagai seorang yang bisa dibilang pakar dalam hubungan percintaan, aku termasuk orang yang menganggap “putus baik-baik” adalah hal yang sebenarnya gak baik-baik
Logikanya, kalo hubungannya baik-baik harusnya gak putus kan? Terus, kalo hubungannya baik-baik kenapa memutuskan untuk berpisah? Aku akan jabarkan sedikit pengetahuan dan pengalamanku dari awal kenal sama yang namanya pacaran sampe sekarang
Sebagai seorang pria yang cukup berhati-hati dalam memulai suatu hubungan percintaan. Aku baru 3 kali menganggap sebuah hubungan layak disebut pacaran. Dua kali ketika SMK dan 1 kali ketika kuliah yang berlanjut hingga sekarang
“Menurutku udah banyak banget di zaman sekarang yang putus baik-baik. Artinya mereka putus karena sama-sama paham kalo udah gak ada yang bisa dipertahankan lagi. Alesannya mereka putus juga sangat berpengaruh sama kemungkinan bisa putus baik-baik atau enggak. Kalo alesannya selingkuh, ya jelas gak baik-baik aja dong” kata Fika
Sampai sini aku masih bingung sebenarnya dengan konsep putus baik-baik
“Artinya kan putus baik-baik perlu kedewasaan kedua belah pihak. Mereka sama-sama sadar kalo emang keputusan terbaik yang bisa diambil adalah untuk melepaskan. Justru kalo dipertahankan malah makin sakit. Cara terbaik buat putus ya harus memposisikan diri ketika kamu mau nembak dia. Kamu dan pasangan harus meluangkan waktu khusus buat momen ini, ngomong secara baik-baik dan usahakan setiap kalimat yang kamu keluarkan emang langsung ke intinya supaya gak salah paham” lanjut Fika
Sangat dewasa sekali ternyata jawaban dari Fika yang ternyata belum pernah pacaran hingga saat ini. Dan Fika juga setuju kalo putus baik-baik emang bisa aja terjadi
Karena makna yang aku tangkap dari “baik-baik” di sini adalah “dewasa”
Putus secara dewasa dengan alasan yang bisa masuk ke dalam logika dengan prinsip saling melepaskan buat kebaikan satu sama lain. Hal ini bisa dicapai kalo kamu dan pasangan udah dewasa secara pikiran dan emosi tentunya
Kalo dibandingin sama masa-masa cinta monyet, pasti alesan putusnya aneh-aneh. Ada yang putus karena udah bosen liat muka pasangannya, cara makannya yang ganggu banget, hingga putus karena mau fokus ujian atau karir
Tapi ketika beranjak usia 20-an, kayanya makna pacaran juga udah berubah banget. Udah bukan buat senang-senang aja tapi mulai mikirin masa depan. Bukan lagi pacaran buat teman jalan aja, tapi buat jadi teman hidup (kenapa aku bijak banget yah)
Setelah ngobrol panjang lebar sama manusia-manusia di VisibleMi, khususnya Fika yang ternyata asik diajak ngobrol masalah percintaan duniawi. Aku jadi makin paham akan hal yang sering aku sejak lama tentang putus baik-baik

Cinta butuh logika

Pendapatku mungkin akan bertolak belakang sama apa kata Agnez Mo yang bilang kalo cinta gak ada logika. Mungkin pernyataan saat jatuh cinta, tai aja berasa coklat masih relevan. Tapi kalo udah pacaran beberapa waktu sampai akhirnya kamu mengenal lebih jauh pasangan kamu kaya gimana. Harusnya logika juga makin berperan. Maksudnya bukan berarti tiap ada masalah kamu mengutamakan logika sampai gak perhatiin parasaan pasangan yah. Tapi berpikir lebih logis untuk sama-sama mencari jalan keluar bisa bisa win-win solution. Biar gak jadi “cinta bego” tapi realistis

Tahu kapan harus berhenti

Ini menunjukkan kalo setiap manusia memiliki batasnya masing-masing. Termasuk dalam berhubungan sama orang asing yang nantinya bakal jadi orang yang deket banget sama kamu. Bukan artinya kamu gak memperjuangkan pasangan kalian, tapi balik lagi ke pernyataan dari Fika di awal. Ketika kamu udah semakin dewasa secara pikiran dan emosi, kamu akan tahu ada hal-hal yang kalo semakin diperjuangkan maka akan makin sakit. Ibarat kamu peluk Durian. Kamu sadar Durian itu berduri, tapi masih kamu peluk. Dan semakin kamu peluk maka duri itu akan semakin sakit menancap di tubuh kamu. Baiknya kamu saling cerita dan bertukar pikiran dengan pasangan, siapa tau solusinya adalah untuk saling melepaskan buat kebaikan satu sama lain

Dari pacaran hingga temenan

Sangat mungkin untuk tetap menjalin hubungan baik dengan mantan pacar menjadi teman biasa. Terdengarnya mungkin biasa tapi jika kamu memutuskan untuk berteman baik dengan mantan pacar, maka kemungkinan untuk menjadi teman dekat sangat bisa dilakukan. Kalian udah saling tau karakter dan sifat masing-masing, sehingga bisa saling mengingatkan agar tidak terulang kesalahan yang sama ketika dulu kalian pacaran. Namanya putus cinta pasti ada fase dimana kamu akan galau dan ingatan masa lalu sengaja datang kembali, lembar demi lembar ingatan akan tergambar jelas di kepala. Butuh waktu yang cukup lama hingga kamu tidak terus terjebak di masa itu. Tapi yang paling penting adalah ada niatan dulu untuk gak menyimpan rasa sakit abis putus itu terlalu lama. Saat kamu udah berdamai nantinya, cobalah untuk membangun relasi lagi sama mantan pasangan kalian. Sebatas interaksi sosial aja sesama manusia pada umumnya. Dengan begitu hidup kamu akan semakin tenang kan?
Kesimpulan yang bisa aku ambil dari konsep putus baik-baik adalah: Walaupun ga mengurangi rasa sakit hati dan galaunya, tapi seenggaknya kalo putusnya secara baik-baik uneg-uneg yang aku rasakan akan lebih sedikit. Karena udah diceritakan sebelumnya dan udah sama-sama mencari jalan keluarnya, namun terhalang jalan buntu yang mengharuskan hubungannya selesai
Oh iya, di awal aku bilang kalo baik-baik kenapa harus putus, kan? jadi untuk kasus ini setelah aku mendapatkan banyak asupan dan petuah-petuah dari Fika. Aku putuskan untuk menyebutkan putus secara dewasa, bukan putus baik-baik. Karena tetap, kalo baik-baik kenapa harus putus
Gimana Ges? (*/Taufik)