Header Ads Widget

Responsive Advertisement

VISIBLEMI - Jika ada orang yang bilang kalo cowo dan cewe gak bisa temenan lama, mungkin lebih baik orang itu gak usah punya temen aja sekalian. Karena aku, Fika dan temanku Fino adalah orang yang udah berteman lama banget

Kami berteman dari bangku SMP, berawal dari duduk bareng sampai akhirnya kami lulus masih duduk bareng di bangku barisan ke 3 dari depan. Aku selalu ada di setiap kebodohan yang Fino buat, dan Fino selalu ada di setiap prestasi yang aku capai

Gak heran kalo banyak banget guru bahkan teman-teman sekelas mengibaratkan aku dan Fino sebagai langit dan bumi. Sebenarnya Fino cukup pintar dalam hal akademi, tapi dia juga cukup malas untuk belajar. Dia punya logika yang kuat, sementara aku punya kepala yang dengan mudah menghafal apa yang disampaikan oleh guru ketika mengajar

Fino selalu memberikan aku contekan setiap kali ulangan mingguan, bahkan Fino masih sempat memberikan aku contekan ketika ujian kenaikan kelas. Tapi aneh, lembar jawabannya selalu saja banyak yang gak di isi

"Males ngisinya, cape" katanya Fino

"Ya tinggal tulis aja kaya kamu nulis contekan buat aku"

"Fika, aku cape kalo harus nulis 2 kali. Mendingan kamu aja yang isi jawabannya biar bisa juara 1 terus"

"Emang kamu gak mau jadi juara 1?"

"Enggak. Aku takut"

"Takut kenapa?"

"Takut disangka nyontek sama guru-guru"

6 tahun kami selalu sekelas bareng dari awal masuk SMP sampai lulus SMA, udah lebih dari 12 kali Fino menjawab pertanyaanku dengan jawaban yang sama

Aku yakin kalo Fino itu orangnya pinter, tapi rasa malasnya bisa mengalahkan hal apapun. Dia bisa saja rebahan seharian tanpa merasa bosan. Dia juga bisa makan menu makan yang sama lebih dari 1 bulan. Kalo aku yang kaya gitu pasti udah bosen banget

tttiiinnggggggggg (notif email)

Pagi itu aku mendapatkan email dari salah satu kampus terbaiks di kota ku. Kampus yang melahirkan banyak sekali tokoh berpengaruh di negeriku ini. Isi email tersebut menyatakan bahwa aku keterima dan tinggal melakukan daftar ulang

Aku bingung antara harus senang atau sedih. Aku senang karena sejak kelas 3 SMA aku belajar dengan giat supaya mendapatkan nilai yang bagus agar bisa masuk ke kampus ini. Aku juga sedih karena gak bisa lagi sebangku dengan teman dekatku, Fino

Ingin rasanya aku menelpon Fino dan bilang kalo aku keterima di kampus yang aku harapkan dan menceritakan rencanaku setelah menjadi mahasiswa nanti. Ketemu kating yang ganteng, pake baju bebas, mewarnai rambut, dan masih banyak lagi. Tapi aku takut itu semua menyakiti perasaannya

Dia pernah bilang

"Sehabis lulus kayanya aku mau kerja aja deh"

"Kenapa?" tanyaku kaget

"Gapapa, pengen kerja aja biar punya duit jajan yang banyak"

"Emang mau kerja apa?"

"Apa aja, jadi buruh pabrik juga gak masalah, aku siap"

"Gak pengen lanjut kuliah aja?"

"Kalo ada kampus yang mau nerima sih ya aku mau-mau aja"

Dari sana aku bisa menilai kalo maslah yang dialami Fino adalah finansial. Dia emang bukan orang yang datang dari keluarga yang berkecukupan, makanya aku bisa yakin kalo alasan utama kenapa dia gak mau lanjut kuliah adalah finansial

"Kerja sambil kuliah aja, pasti seru" ucapku

"Nanti deh aku pikirin"

Aku gak tahan dengan apa yang aku rasain saat ini. Aku harus cerita menelpon Fino dan aku ceritakan tentang aku yang keterima di kampus yang aku harapkan. Tapi kayanya enakan ketemu langsung deh, biar lebih enak aja ngobrolnya

Sorenya aku memutuskan untuk ketemu Fino di taman dekat rumahku, di ayunan yang rantainya udah penuh dengan karat karena kehujanan

Dia masih orang yang sama. Orang yang setiap kali keluar rumah menggunakan kaos polos berwarna hitam dan blue jeans yang udah sobek di lutut sebelah kanannya. Aku berjalan agak berlari menghampiri Fino yang lagi duduk melamun di ayunan

"Aku mau tebak" kata Fino

Semoga aja tebakannya kali ini salah. Biasaya kalo Fino nebak selalu aja benar, aneh aku juga. Tingkat keberuntungannya tuh tinggi banget. Sambil mulai duduk di ayunan sebelah Fino, aku langsung kaget mendengar apa yang di katakannya dan hampir saja terjatuh ke belakang

"Kamu pasti mau cerita kalo kamu keterima di kampus yang kamu pengen itu kan?"

"Ih kok?" aku kaget banget

"Aku juga keterima kok, di jurusan Ilmu Komunikasi"

"Ihhh...."

Belum sempat aku melanjutkan omonganku, Fino langsung memotongnya

"Kamu juga keterima di jurusan yang sama kan? Ok, nanti kita duduk sampingan lagi. Tapi gak akan aku kasih contekan. Hahahaha"

Aku udah gak bisa ngomong apa-apa lagi. Tebakannya selalu benar

Tanpa sadar aku turun dari ayunan dan memeluk Fino yang saat itu masih tertawa dengan nadanya yang khas banget (*/Fika)